Pentingnya Manajemen Risiko Pada Perusahaan Sektor Ritel

Sektor ritel merupakan salah satu sektor bisnis yang tak pernah sepi peminat. Sebab, manusia akan selalu melakukan aktivitas konsumsi sehingga perusahaan ritel akan selalu dibutuhkan oleh para konsumen. Meskipun perusahaan sektor ritel bergerak pada bisnis yang menjanjikan, bukan berarti tidak ada potensi risiko yang dapat mengganggu jalannya bisnis.

Mengidentifikasi risiko dan mengelolanya merupakan hal yang penting dilakukan oleh setiap perusahaan dalam bisnis usaha ritel sehingga manajemen risiko yang menyeluruh pada seluruh komponen di dalamnya menjadi hal yang sangat dibutuhkan untuk meminimalisir berbagai risiko dan pengendaliannya.

Berikut adalah beberapa risiko utama yang dihadapi oleh sebuah bisnis sektor retail:

  1. Risiko Rantai Suplai

Dalam menjalankan bisnisnya, perusahaan sektor ritel perlu memperhatikan manajemen rantai suplai. Tanpa manajemen yang baik, perusahaan ritel tidak bisa mendapatkan barang dari pemasok. Kemudian, tanpa barang, maka tidak akan ada penjualan yang bisa membuat bisnis berjalan. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran akan risiko manajemen rantai suplai agar bisnis yang dijalankan dapat berjalan lancar.

  • Risiko Penjualan Jenis Produk / Barang

Pada umumnya, produk yang dijual dalam bisnis ritel adalah beragam jenisnya. Dari beragam jenis produk tersebut, ada beberapa yang laku terjual dan tidak laku terjual. Sehingga perlu dilakukan manajemen risiko agar tidak terjadi ketimpangan penjualan jenis produk untuk menghindari risiko kerugian dari menumpuknya stok produk yang tidak laku terjual. Di sisi lain, jika terdapat jenis produk yang sangat laku, perlu dilakukan strategi untuk ketersediaan stok agar tidak terjadi risiko kehilangan penjualan.

  • Perubahan Tren Belanja Masyarakat

Salah satu ancaman yang dirasakan oleh para perusahaan sektor ritel adalah perubahan tren masyarakat dalam berbelanja. Jika dulu masyarakat berbelanja secara tradisional, saat ini dengan hadirnya teknologi internet membuat pola berbelanja masyarakat berubah. Berdasarkan prediksi katadata.com, pada tahun 2022 nanti penjualan barang melalui e-commerce akan mencapai Rp 219 Trilliun dalam setahun atau bertumbuh sekitar 133,5% dari tahun 2017. Peningkatan tersebut menjadi sinyal waspada bagi para perusahaan sektor ritel agar bisa mengatasi risiko yang sudah ada di depan mata.

  • Risiko Cyber Pada Perusahaan Sektor Ritel

Ketika tren berbelanja masyarakat mulai berubah, beberapa perusahaan sektor ritel pun mulai beradaptasi dan memasarkan produknya secara online. Langkah ini tergolong langkah yang cerdas sekaligus dapat menimbulkan risiko lainnya, yaitu risiko siber (cyber).

Bagaimanapun, risiko siber tidak terbatas pada perusahaan yang berbasis teknologi saja, namun juga perusahaan-perusahaan yang tengah dan/atau sudah melakukan transformasi digital dan bergantung pada IT (Information Technology) dan Operations Technology (OT), termasuk perusahaan ritel disarankan perlu mewaspadai serangan cyber yang tidak dapat dihindari.

Dikutip dari Laporan Kondisi Keamanan Internet Indonesia oleh Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure Coordinator Center (ID-SIRTII/CC), pada tahun 2017 silam sebanyak 205 juta serangan cyber terjadi di Indonesia. Kondisi tersebut membuat Indonesia jadi negara urutan kedua dengan serangan siber terbanyak di dunia. Selain itu, menurut surveybrokerasuransiperusahaan,Marsh Indonesia,  sekitar 7% perusahaan ritel mendapat serangan cyberyang terjadi di Asia Pasifik selama tahun 2017. Sehingga, perlindungan risiko cyber perlu menjadi perhatian serius oleh perusahaan ritel di Indonesia.

Beragam risiko diatas dapat diminimalisir dengan melakukan manajemen risiko yang tepat. Salah satu langkah yang bisa dilakukan oleh perusahaan yakni dengan membeli asuransi, yang dapat melindungi risiko secara finansial sehingga perusahaan bisa menekan kerugian apabila salah satu risiko diatas terjadi.

Untuk mendapatkan asuransi, Anda juga bisa menggunakan perusahaan Pialang atau Broker Asuransi dan Konsultan Manajemen Risiko yang memiliki reputasi baik dan memahami berbagai risiko yang dihadapi perusahaan sektor ritel seperti Marsh Indonesia. Marsh akan merancang solusi manajemen risiko untuk meminimalisir risiko kerugian perusahaan Anda. Kemudian, broker akan menelusuri pasar asuransi di Indonesia untuk mencari Insurer (perusahaan asuransi atau penanggung risiko) yang sesuai dengan kebutuhan klien.

Selain itu, nilai tambah yang dapat diberikan dengan menggunakan broker asuransi adalah syarat dan ketentuan produk asuransi yang bisa diperluas, serta layanan konsultasi ketika terjadi klaim. Sudah banyak perusahaan-perusahaan ritel yang dibantu oleh Marsh Indonesia saat terjadinya klaim dengan hasil penyelesaian klaim yang memuaskan.

Tags: